Banyuwangi, 27 September 2026 – Arus lalu lintas menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, mengalami kemacetan panjang pada Minggu (27/9). Antrean kendaraan tercatat mengular hingga sekitar 7,8 kilometer pada pukul 12.00 WIB. Kepadatan tersebut merupakan dampak lanjutan dari aksi penyampaian aspirasi para sopir kendaraan logistik yang berlangsung sehari sebelumnya. Aktivitas bongkar muat dan arus kendaraan menuju kawasan pelabuhan sempat terganggu akibat aksi tersebut.
Kepadatan terjadi di jalur utama menuju Pelabuhan Ketapang yang menjadi salah satu akses penting penyeberangan Jawa-Bali. Banyak kendaraan, terutama truk logistik, tertahan dalam antrean panjang sebelum dapat memasuki kawasan pelabuhan. Kondisi tersebut membuat perjalanan pengguna jalan lainnya ikut terdampak. Pada Minggu pagi, laporan dari lapangan bahkan sempat mencatat antrean lebih dari sembilan kilometer sebelum berangsur berubah seiring pengaturan lalu lintas.
Aksi para sopir dipicu persoalan antrean kendaraan logistik dan pola operasional penyeberangan yang dinilai belum mampu mengurai kepadatan secara maksimal. Mereka meminta truk-truk besar memperoleh kesempatan lebih optimal untuk masuk ke kapal. Permasalahan antrean menuju Ketapang sebelumnya juga telah berulang sepanjang September dan membuat sebagian sopir harus menunggu lama sebelum menyeberang. Keluhan mengenai pengaturan kendaraan menjadi salah satu persoalan yang disampaikan para pengemudi.
Kepolisian kemudian menerapkan rekayasa lalu lintas untuk membantu mengurai antrean. Pengaturan dilakukan dengan memanfaatkan sejumlah titik sebagai zona penyangga sehingga kendaraan tidak seluruhnya menumpuk di akses utama menuju pelabuhan. Petugas juga mengatur pergerakan kendaraan secara bertahap sesuai kondisi di kawasan Ketapang. Langkah tersebut dilakukan agar antrean tidak mengunci arus lalu lintas di jalur Banyuwangi-Situbondo.
Kemacetan di Ketapang bukan pertama kali terjadi pada September 2026. Pada awal bulan, antrean kendaraan logistik bahkan sempat mencapai sekitar 16 kilometer sebelum berkurang menjadi tujuh kilometer. Ditlantas Polda Jawa Timur juga pernah mengerahkan puluhan personel untuk memperkuat pengaturan lalu lintas ketika antrean berada pada kisaran delapan hingga sembilan kilometer. Kondisi tersebut menunjukkan kapasitas layanan penyeberangan dan tingginya volume kendaraan menjadi tantangan yang membutuhkan penanganan berkelanjutan.
Pelabuhan Ketapang memiliki peran penting dalam pergerakan penumpang dan distribusi barang antara Pulau Jawa dan Bali. Karena itu, kepadatan berkepanjangan dapat memengaruhi waktu perjalanan kendaraan logistik serta distribusi komoditas ke wilayah tujuan. Operator pelabuhan, regulator, kepolisian, dan perwakilan pengemudi sebelumnya telah melakukan koordinasi untuk mencari solusi atas penumpukan kendaraan. Optimalisasi operasional kapal menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk meningkatkan kapasitas angkut dan mempercepat penguraian antrean.
Petugas terus memantau perkembangan arus kendaraan agar kepadatan menuju Pelabuhan Ketapang dapat berangsur terurai. Rekayasa lalu lintas akan disesuaikan dengan panjang antrean dan kemampuan kawasan pelabuhan menerima kendaraan. Koordinasi antara pengelola penyeberangan dan aparat menjadi penting karena jalur Ketapang-Gilimanuk merupakan salah satu urat nadi transportasi utama Jawa-Bali. Penanganan yang konsisten diharapkan dapat mengembalikan kelancaran penyeberangan sekaligus mengurangi waktu tunggu kendaraan logistik.