Jakarta, 5 November 2026 – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan potensi kenaikan harga pangan akibat fenomena El Nino yang dapat memengaruhi kondisi produksi pertanian di Indonesia. Perubahan cuaca yang menyebabkan berkurangnya curah hujan berisiko mengganggu pasokan sejumlah komoditas kebutuhan pokok. Apabila kondisi tersebut berlangsung dalam waktu panjang, tekanan terhadap harga pangan dapat semakin besar. Situasi ini dikhawatirkan berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.
Fenomena El Nino berkaitan dengan peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah. Di Indonesia, fenomena tersebut sering dikaitkan dengan berkurangnya curah hujan dan meningkatnya risiko kekeringan pada musim tertentu. Kondisi ini dapat mengganggu ketersediaan air untuk kegiatan pertanian, khususnya tanaman pangan yang membutuhkan pasokan air secara teratur. Penurunan produktivitas pertanian berpotensi memengaruhi jumlah hasil panen yang masuk ke pasar.
INDEF menilai risiko kenaikan harga pangan perlu mendapat perhatian karena kebutuhan makanan merupakan salah satu komponen utama pengeluaran rumah tangga. Komoditas seperti beras, cabai, bawang, dan berbagai hasil pertanian lainnya dapat mengalami tekanan harga apabila produksi dan distribusi terganggu. Kenaikan harga yang terjadi secara bersamaan berpotensi memperbesar beban belanja masyarakat. Dampaknya dapat terasa lebih berat bagi keluarga yang sebagian besar pendapatannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tekanan harga pangan juga berpotensi memengaruhi tingkat inflasi nasional. Ketika harga kebutuhan pokok meningkat, masyarakat harus mengalokasikan pengeluaran lebih besar untuk membeli barang dalam jumlah yang sama. Kondisi tersebut dapat mengurangi kemampuan rumah tangga membiayai kebutuhan lain, seperti pendidikan, kesehatan, dan transportasi. Apabila berlangsung berkepanjangan, penurunan daya beli dapat memengaruhi aktivitas konsumsi yang menjadi salah satu penggerak utama perekonomian Indonesia.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, pemerintah perlu memperkuat kesiapan produksi dan distribusi pangan sebelum dampak kekeringan meluas. Pengelolaan cadangan pangan, perbaikan jaringan irigasi, serta pemantauan kondisi pertanian menjadi langkah penting dalam menjaga stabilitas pasokan. Pemerintah juga perlu memastikan distribusi kebutuhan pokok tetap berjalan lancar agar tidak terjadi kesenjangan harga yang terlalu besar antarwilayah. Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah diperlukan untuk mengidentifikasi wilayah yang berpotensi mengalami gangguan produksi.
Selain menjaga pasokan, perlindungan terhadap kelompok masyarakat rentan menjadi bagian penting dalam menghadapi kemungkinan lonjakan harga pangan. Program bantuan sosial dan intervensi pasar dapat dipertimbangkan apabila kenaikan harga mulai memberikan tekanan besar terhadap kebutuhan rumah tangga. Di sektor pertanian, dukungan berupa informasi cuaca, teknologi pengairan, dan penyesuaian jadwal tanam dapat membantu petani mengurangi risiko kerugian. Langkah antisipatif tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen.
Peringatan INDEF mengenai dampak El Nino menunjukkan pentingnya kesiapan pemerintah menghadapi perubahan iklim yang dapat memengaruhi ketahanan pangan nasional. Stabilitas harga kebutuhan pokok tidak hanya bergantung pada jumlah produksi, tetapi juga pada kelancaran distribusi dan kemampuan pemerintah merespons gangguan pasokan. Pengawasan harga serta penguatan cadangan pangan perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk mengurangi risiko gejolak pasar. Dengan persiapan yang matang, tekanan terhadap daya beli masyarakat diharapkan dapat diminimalkan meskipun kondisi cuaca menghadirkan tantangan bagi sektor pertanian.