Jakarta, 13 Mei 2026 – Rencana pembangunan gapura raksasa setinggi sekitar 76 meter yang dikaitkan dengan nama Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu perhatian serius otoritas penerbangan di Amerika Serikat. Struktur berukuran besar tersebut disebut berpotensi mengganggu jalur penerbangan dan menimbulkan risiko keselamatan bagi pesawat yang melintas di kawasan sekitar proyek pembangunan.
Otoritas penerbangan federal Amerika atau Federal Aviation Administration dilaporkan tengah melakukan kajian teknis terkait dampak keberadaan bangunan tersebut terhadap lalu lintas udara. Ketinggian struktur yang mencapai puluhan meter dinilai dapat memengaruhi area pendekatan dan jalur navigasi pesawat, terutama jika lokasinya berada dekat bandara atau lintasan penerbangan aktif.
Perdebatan mengenai proyek itu semakin ramai setelah sejumlah pakar keselamatan penerbangan menyoroti potensi bahaya yang dapat muncul apabila desain dan penempatan bangunan tidak memenuhi standar keamanan aviasi. Mereka menilai setiap struktur tinggi di sekitar area penerbangan harus melalui evaluasi ketat untuk memastikan tidak mengganggu sistem radar, komunikasi, maupun visibilitas pilot saat lepas landas dan mendarat.
Di sisi lain, pendukung proyek menganggap gapura raksasa tersebut sebagai simbol ikonik dan daya tarik baru yang dapat meningkatkan nilai wisata serta ekonomi kawasan. Namun kritik terus bermunculan karena proyek dianggap lebih mengutamakan unsur monumental dibanding aspek keselamatan dan tata ruang. Polemik itu membuat isu pembangunan gapura semakin menjadi perhatian media dan publik internasional.
Pengamat infrastruktur menilai konflik antara proyek properti besar dan keselamatan penerbangan bukan hal baru di berbagai negara. Karena itu, koordinasi antara pengembang dan regulator penerbangan dinilai sangat penting agar pembangunan tetap berjalan tanpa membahayakan aktivitas udara. Hingga kini, proses evaluasi terhadap proyek tersebut masih terus berlangsung sambil menunggu keputusan resmi dari pihak berwenang.