Jakarta, 28 Juli 2026 – Pembangunan rumah susun atau rusun dinilai menjadi salah satu pendekatan yang lebih efisien untuk memenuhi kebutuhan hunian masyarakat di kota-kota besar. Ketersediaan lahan yang semakin terbatas membuat pembangunan rumah tapak dalam jumlah besar menghadapi tantangan, terutama ketika harga tanah terus meningkat dan kebutuhan tempat tinggal bertambah. Konsep hunian vertikal memungkinkan lebih banyak keluarga tinggal pada satu kawasan tanpa membutuhkan perluasan lahan sebesar pembangunan perumahan horizontal. Pendekatan tersebut juga dapat membantu pemerintah maupun pengembang mengoptimalkan penggunaan tanah di kawasan yang telah memiliki jaringan transportasi dan fasilitas publik. Namun, efisiensi pembangunan tidak cukup hanya dihitung berdasarkan jumlah unit yang dapat dibangun dalam satu lokasi. Kenyamanan, aksesibilitas, pengelolaan, dan keterjangkauan biaya tetap menjadi faktor penting agar rusun benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat perkotaan.
Pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi membuat kebutuhan ruang di kota besar semakin tinggi. Lahan tidak hanya dibutuhkan untuk perumahan, tetapi juga untuk jalan, sekolah, rumah sakit, kawasan usaha, ruang terbuka, serta berbagai fasilitas pelayanan masyarakat. Apabila kebutuhan hunian seluruhnya dipenuhi melalui rumah tapak, perkembangan kawasan dapat terus melebar menuju wilayah pinggiran. Kondisi tersebut berpotensi membuat jarak antara tempat tinggal dan pusat aktivitas semakin jauh sehingga masyarakat membutuhkan waktu perjalanan lebih panjang. Pembangunan vertikal memberikan alternatif dengan meningkatkan kapasitas hunian pada bidang tanah yang lebih terbatas. Dalam perencanaan yang tepat, rusun dapat ditempatkan dekat pusat pekerjaan maupun jaringan transportasi sehingga mobilitas penghuni menjadi lebih efisien.
Keuntungan lain dari pembangunan rusun adalah peluang mengintegrasikan berbagai fasilitas dalam satu kawasan. Hunian dapat dirancang berdekatan dengan ruang terbuka, tempat bermain anak, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, area komersial, hingga transportasi publik. Konsep tersebut membuat penghuni tidak selalu harus melakukan perjalanan jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Infrastruktur seperti jaringan air, listrik, pengelolaan sampah, dan saluran pembuangan juga dapat dirancang secara terpusat untuk melayani banyak unit. Namun, kepadatan penghuni membuat kapasitas setiap fasilitas harus dihitung dengan baik agar tidak menimbulkan persoalan baru setelah bangunan digunakan. Rusun yang memiliki banyak unit tetapi minim fasilitas pendukung dapat membuat kualitas hidup penghuninya tidak sesuai dengan tujuan awal pembangunan.
Aspek lokasi menjadi salah satu penentu keberhasilan hunian vertikal di kota besar. Rusun dengan harga terjangkau tetapi berada jauh dari pusat pekerjaan dapat membuat penghuni mengeluarkan biaya transportasi lebih besar setiap hari. Karena itu, pembangunan perlu mempertimbangkan hubungan antara tempat tinggal, kawasan pekerjaan, dan sistem angkutan umum. Kedekatan dengan stasiun, terminal, halte, atau koridor transportasi dapat meningkatkan manfaat hunian sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. Integrasi tersebut juga dapat membantu mengurangi beban lalu lintas apabila masyarakat memiliki alternatif perjalanan yang praktis. Perencanaan hunian dan transportasi karena itu perlu berjalan bersama, bukan dikembangkan sebagai dua kebutuhan perkotaan yang terpisah.
Meski menawarkan efisiensi lahan, kehidupan di rumah susun membutuhkan sistem pengelolaan yang berbeda dibandingkan rumah tapak. Penghuni berbagi berbagai fasilitas seperti koridor, tangga, lift, ruang terbuka, sistem keamanan, dan sejumlah infrastruktur bangunan. Pemeliharaan fasilitas bersama membutuhkan biaya dan pengelolaan yang konsisten agar kualitas bangunan tidak menurun setelah digunakan selama bertahun-tahun. Sistem keselamatan kebakaran, jalur evakuasi, struktur bangunan, serta fasilitas untuk kelompok dengan kebutuhan aksesibilitas juga harus menjadi perhatian sejak tahap perencanaan. Semakin tinggi dan padat sebuah bangunan, semakin besar kebutuhan terhadap pengelolaan teknis yang profesional. Efisiensi pada tahap pembangunan karena itu harus diikuti kemampuan mempertahankan kualitas hunian selama masa operasional.
Keterjangkauan tetap menjadi tantangan penting dalam pengembangan rumah susun untuk masyarakat perkotaan. Hunian vertikal yang dibangun pada lokasi strategis dapat memiliki biaya tanah dan pembangunan tinggi sehingga harga akhirnya belum tentu terjangkau bagi kelompok yang paling membutuhkan. Kebijakan perumahan perlu memastikan pembangunan tidak hanya menambah jumlah unit, tetapi juga menyediakan pilihan berdasarkan kemampuan ekonomi masyarakat. Skema sewa dapat menjadi alternatif bagi sebagian warga yang belum membutuhkan atau belum mampu membeli hunian secara permanen. Pemerintah juga dapat mempertimbangkan pemanfaatan tanah yang telah dikuasai negara atau pemerintah daerah untuk menekan komponen biaya tertentu sesuai ketentuan. Tujuannya adalah menjaga agar keuntungan dari efisiensi lahan dapat diterjemahkan menjadi akses hunian yang lebih luas.
Rumah susun pada akhirnya dapat menjadi salah satu bagian penting dari strategi penyediaan hunian di kota besar yang menghadapi keterbatasan lahan dan tingginya kebutuhan tempat tinggal. Model vertikal memungkinkan pemanfaatan ruang secara lebih intensif sekaligus membuka peluang menghubungkan hunian dengan transportasi dan fasilitas publik. Namun, keberhasilan rusun tidak dapat diukur hanya dari banyaknya unit yang selesai dibangun atau tingginya bangunan. Lokasi yang tepat, harga yang sesuai kemampuan masyarakat, kualitas konstruksi, fasilitas pendukung, serta pengelolaan jangka panjang harus menjadi satu kesatuan dalam perencanaan. Kota juga tetap membutuhkan variasi jenis hunian karena kebutuhan setiap keluarga berbeda berdasarkan pekerjaan, jumlah anggota keluarga, dan kemampuan ekonomi. Dengan perencanaan yang matang, rusun dapat menjadi solusi hunian perkotaan yang efisien sekaligus membantu menciptakan kota yang lebih terhubung dan tertata.