Pandeglang, 17 September 2026 – Operasi pencarian terhadap rombongan jurnalis dan awak kapal yang hilang di perairan Selat Sunda kembali dilanjutkan pada hari ke-10 dengan memperluas wilayah penyisiran hingga sekitar 8.509 mil laut persegi. Perluasan dilakukan untuk meningkatkan peluang menemukan korban maupun petunjuk baru setelah pencarian pada hari-hari sebelumnya belum memberikan hasil yang diharapkan. Tim SAR gabungan membagi wilayah operasi ke dalam sejumlah sektor agar penyisiran dapat dilakukan secara sistematis. Area pencarian tidak hanya mencakup sekitar perairan Gunung Anak Krakatau, tetapi berkembang mengikuti perhitungan arah arus dan kondisi laut. Unsur laut menjadi bagian utama dalam operasi karena kemungkinan pergerakan objek dapat semakin jauh dari lokasi awal seiring berjalannya waktu. Penyisiran darat dan pemantauan udara juga tetap disiapkan untuk melengkapi pencarian di perairan.
Perluasan wilayah pada hari ke-10 merupakan hasil evaluasi terhadap operasi sebelumnya yang telah berlangsung sejak laporan hilang kontak diterima. Tim SAR menggunakan data pergerakan arus, arah angin, gelombang, serta berbagai informasi lapangan untuk menentukan sektor pencarian baru. Perubahan kondisi laut dari hari ke hari membuat posisi objek yang hanyut dapat bergeser cukup jauh. Karena itu, area operasi harus terus diperbarui agar pencarian tidak hanya terpusat pada titik terakhir komunikasi. Setiap unsur yang dikerahkan memperoleh sektor tertentu untuk menghindari tumpang tindih sekaligus meningkatkan efektivitas penyisiran. Hasil dari masing-masing sektor kemudian menjadi bahan evaluasi untuk menentukan strategi operasi berikutnya.
Rombongan yang dicari terdiri atas lima jurnalis dan tiga awak kapal yang menggunakan kapal cepat untuk melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau. Kapal tersebut dilaporkan hilang kontak setelah berangkat dari kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, pada 7 September 2026. Komunikasi dengan rombongan kemudian terputus sehingga upaya pencarian dilakukan setelah informasi diterima petugas SAR. Sejak saat itu, berbagai unsur dikerahkan untuk melakukan penyisiran di kawasan Selat Sunda. Operasi melibatkan personel dari berbagai instansi dengan dukungan kapal, peralatan komunikasi, dan sarana pencarian lainnya. Lamanya waktu pencarian membuat cakupan operasi terus disesuaikan dengan kemungkinan pergerakan korban maupun kapal.
Pada hari ke-10, wilayah pencarian jauh lebih luas dibandingkan operasi sehari sebelumnya yang mencakup sekitar 3.439 mil laut persegi. Penambahan tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi tim ketika objek pencarian belum ditemukan setelah lebih dari satu pekan. Selat Sunda memiliki karakter perairan dengan arus yang dapat berubah dan dipengaruhi kondisi cuaca serta pasang surut. Faktor tersebut membuat perhitungan pergerakan benda di permukaan laut menjadi salah satu bagian penting dalam operasi. Tim SAR terus memperbarui perkiraan berdasarkan data terbaru agar pengerahan kapal dapat diarahkan secara lebih efektif. Meski area semakin luas, pembagian sektor digunakan untuk menjaga pencarian tetap terkoordinasi.
Selain memperluas wilayah laut, tim gabungan sebelumnya juga menyisir jalur darat mulai dari kawasan Pantai Carita hingga Pantai Anyer. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan korban atau material kapal terbawa arus menuju garis pantai. Petugas berjalan menyusuri sejumlah bagian pesisir sambil mengamati benda yang berpotensi berkaitan dengan kejadian. Pulau-pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau juga telah menjadi sasaran pemeriksaan selama operasi. Penyisiran tersebut penting karena korban yang berhasil bertahan di laut memiliki kemungkinan mencapai daratan atau pulau terdekat. Hingga operasi memasuki hari ke-10, setiap temuan tetap harus diverifikasi sebelum dapat dipastikan berkaitan dengan rombongan yang hilang.
Pencarian melalui udara turut menjadi bagian dari strategi operasi ketika kondisi memungkinkan. Pengamatan dari ketinggian dapat membantu menjangkau area yang lebih luas dalam waktu relatif singkat dibandingkan penyisiran menggunakan kapal. Namun, penggunaan sarana udara sangat bergantung pada cuaca, jarak pandang, kecepatan angin, dan kondisi aktivitas Gunung Anak Krakatau. Keselamatan personel dan awak pesawat tetap menjadi pertimbangan utama sebelum penerbangan dilakukan. Apabila kondisi tidak mendukung, pencarian akan lebih banyak mengandalkan unsur laut dan darat. Seluruh metode tersebut digunakan secara terpadu untuk meningkatkan peluang mendapatkan tanda keberadaan korban maupun kapal.
Tim SAR juga terus memeriksa informasi mengenai benda-benda yang ditemukan selama pencarian. Setiap material yang dianggap mencurigakan perlu diidentifikasi untuk mengetahui apakah mempunyai hubungan dengan kapal yang digunakan rombongan. Informasi sekecil apa pun dapat menjadi penting apabila mampu memberikan gambaran mengenai arah pergerakan kapal setelah kehilangan komunikasi. Namun, petugas tidak dapat langsung menyimpulkan bahwa seluruh benda yang ditemukan berasal dari kapal tersebut. Proses verifikasi diperlukan dengan mencocokkan karakteristik barang serta keterangan pihak yang mengetahui perlengkapan rombongan. Temuan yang telah dipastikan relevan kemudian dapat digunakan untuk memperbarui perhitungan area pencarian.
Tantangan lain dalam operasi adalah belum diketahuinya secara pasti kondisi kapal setelah komunikasi terakhir terputus. Tanpa titik pasti keberadaan kapal, pencarian bawah air dalam wilayah yang sangat luas sulit dilakukan secara efektif. Tim karena itu masih memaksimalkan penyisiran permukaan, garis pantai, pulau-pulau, dan pemantauan udara. Apabila nantinya ditemukan petunjuk kuat mengenai lokasi kapal, metode pencarian dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan. Peralatan bawah air maupun penyelaman dapat dipertimbangkan apabila terdapat titik dengan tingkat kemungkinan yang lebih tinggi. Strategi tersebut diperlukan agar sumber daya yang tersedia digunakan pada lokasi yang paling relevan.
Koordinasi antarlembaga menjadi semakin penting seiring bertambah luasnya wilayah operasi. Setiap kapal dan personel perlu mengetahui sektor masing-masing, jalur komunikasi, serta prosedur pelaporan apabila menemukan sesuatu. Posko SAR berfungsi menghimpun seluruh informasi dari lapangan untuk kemudian dianalisis dan digunakan dalam pengambilan keputusan. Evaluasi dilakukan secara berkala karena kondisi di Selat Sunda dapat berubah dalam waktu relatif cepat. Dukungan masyarakat pesisir dan nelayan juga dapat membantu karena mereka beraktivitas langsung di sekitar perairan yang menjadi wilayah pencarian. Informasi yang masuk tetap harus diverifikasi agar operasi tidak teralihkan oleh laporan yang belum dapat dipastikan.
Memasuki hari ke-10, perluasan area hingga 8.509 mil laut persegi menunjukkan upaya pencarian masih terus dimaksimalkan untuk menemukan rombongan jurnalis dan awak kapal yang hilang. Fokus operasi diarahkan pada wilayah yang dihitung memiliki kemungkinan menjadi jalur pergerakan korban atau material kapal berdasarkan kondisi laut. Penyisiran dilakukan melalui kombinasi unsur laut, darat, dan udara sesuai situasi lapangan. Tim SAR juga terus mengevaluasi setiap sektor untuk menentukan langkah pencarian selanjutnya. Luasnya Selat Sunda, perubahan arus, cuaca, serta aktivitas vulkanik menjadi sejumlah tantangan yang harus diperhitungkan selama operasi. Seluruh unsur yang terlibat tetap melanjutkan pencarian dengan harapan memperoleh petunjuk yang dapat mengarah pada keberadaan lima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut.