Jakarta, 20 Agustus 2026 – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan jumlah bus listrik yang beroperasi di Ibu Kota mencapai 10 ribu unit pada 2030. Target tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mempercepat peralihan transportasi umum menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan. Penambahan armada bus listrik diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan berbahan bakar fosil sekaligus membantu menekan emisi dari sektor transportasi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga melihat elektrifikasi angkutan umum sebagai salah satu langkah penting untuk memperbaiki kualitas udara perkotaan. Pencapaian target tersebut membutuhkan perencanaan jangka panjang karena berkaitan dengan pengadaan armada, infrastruktur pengisian daya, kesiapan operator, serta kemampuan jaringan listrik.
Pramono menilai sektor transportasi menjadi salah satu bidang yang perlu mendapatkan perhatian dalam upaya mengurangi polusi udara Jakarta. Aktivitas kendaraan bermotor menghasilkan emisi yang berkontribusi terhadap kualitas udara di kawasan perkotaan. Peralihan kendaraan umum menuju teknologi listrik dapat mengurangi emisi langsung dari kendaraan ketika beroperasi di jalan. Dampaknya akan semakin besar apabila penggunaan bus listrik dilakukan dalam jumlah besar dan menggantikan kendaraan berbahan bakar konvensional. Karena itu, pemerintah tidak hanya menargetkan penambahan armada secara bertahap, tetapi juga ingin membangun ekosistem transportasi yang mendukung penggunaan kendaraan listrik dalam jangka panjang.
Target 10 ribu bus listrik pada 2030 berarti diperlukan peningkatan armada secara konsisten setiap tahun. Pengadaan tidak dapat dilakukan sekaligus karena harus menyesuaikan kebutuhan rute, kemampuan anggaran, kesiapan fasilitas pengisian daya, serta masa penggunaan kendaraan. Setiap penambahan bus juga harus diikuti dengan penyediaan tempat pengisian dan perawatan yang sesuai dengan karakteristik kendaraan listrik. Infrastruktur tersebut menjadi bagian penting karena bus yang jumlahnya semakin banyak membutuhkan sistem pengisian yang mampu melayani armada secara efisien. Pengaturan jadwal pengisian juga harus disesuaikan dengan pola operasional agar tidak mengurangi ketersediaan bus pada jam sibuk.
Elektrifikasi armada transportasi umum juga dapat memberikan manfaat dari sisi biaya operasional. Kendaraan listrik memiliki karakteristik sistem penggerak yang berbeda dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak, termasuk kebutuhan perawatan dan energi. Dalam jangka panjang, penghematan pada sejumlah komponen operasional dapat membantu meningkatkan efisiensi pengelolaan armada. Namun, biaya investasi awal untuk pengadaan bus listrik dan pembangunan infrastruktur pendukung masih menjadi faktor yang perlu diperhitungkan. Pemerintah harus membuat skema pembiayaan yang berkelanjutan agar target pengadaan tidak membebani anggaran dan tetap mampu mendukung kualitas pelayanan kepada penumpang.
Kesiapan jaringan listrik juga menjadi tantangan ketika jumlah kendaraan listrik meningkat dalam skala besar. Pengisian ribuan bus membutuhkan daya yang cukup besar, terutama ketika banyak kendaraan harus melakukan pengisian dalam waktu berdekatan. Karena itu, pengelola transportasi perlu bekerja sama dengan penyedia listrik untuk menentukan lokasi depo, kapasitas sambungan, serta sistem pengaturan beban. Teknologi pengisian cepat maupun pengelolaan pengisian berdasarkan jadwal dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi. Perencanaan sejak awal diperlukan agar pertumbuhan armada tidak menimbulkan gangguan terhadap kebutuhan listrik di wilayah sekitar.
Selain bus listrik, pengembangan transportasi umum Jakarta juga perlu berjalan bersama integrasi antarmoda. Bus menjadi salah satu bagian penting dalam menghubungkan kawasan permukiman dengan jaringan MRT, LRT, dan KRL. Armada yang lebih bersih akan memberikan manfaat lebih besar apabila jumlah pengguna transportasi umum terus meningkat. Pemerintah dapat mendorong masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi dengan menyediakan layanan yang nyaman, tepat waktu, aman, serta terjangkau. Dengan demikian, elektrifikasi bukan hanya pergantian jenis kendaraan, tetapi juga bagian dari strategi meningkatkan penggunaan transportasi publik secara keseluruhan.
Pengembangan bus listrik juga membuka kebutuhan baru dalam hal sumber daya manusia. Pengemudi, teknisi, petugas depo, dan tenaga pemeliharaan perlu mendapatkan pelatihan mengenai karakteristik kendaraan listrik serta prosedur keselamatan yang berbeda dari kendaraan konvensional. Penanganan baterai, sistem kelistrikan bertegangan tinggi, hingga prosedur ketika terjadi gangguan harus dipahami oleh petugas terkait. Operator juga perlu memastikan ketersediaan suku cadang dan fasilitas pemeliharaan agar armada dapat terus beroperasi dengan tingkat keandalan yang tinggi. Kesiapan tenaga kerja menjadi faktor yang sama pentingnya dengan jumlah kendaraan yang berhasil dibeli.
Target Pramono untuk menghadirkan 10 ribu bus listrik di Jakarta pada 2030 menunjukkan arah kebijakan transportasi Ibu Kota yang semakin menekankan elektrifikasi dan pengurangan emisi. Target tersebut memang membutuhkan investasi besar serta koordinasi lintas sektor, tetapi manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang jika dilaksanakan secara konsisten. Penambahan armada harus dibarengi pembangunan infrastruktur pengisian daya, penguatan jaringan listrik, peningkatan kemampuan operator, dan perencanaan rute yang tepat. Jika seluruh komponen tersebut dapat dikembangkan secara bersamaan, ribuan bus listrik tidak hanya akan mengubah jenis kendaraan yang mengaspal di Jakarta, tetapi juga dapat membantu membangun sistem transportasi umum yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan.