Pontianak, 5 September 2026 – Kementerian Kehutanan mulai memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), dengan Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah prioritas. Operasi tersebut dilaksanakan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika serta didukung Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan unsur terkait lainnya. OMC diarahkan untuk memanfaatkan keberadaan awan potensial sehingga peluang turunnya hujan dapat ditingkatkan di kawasan yang membutuhkan pembasahan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi terpadu pemerintah untuk mengendalikan kebakaran sekaligus mencegah munculnya titik api baru. Kawasan gambut mendapatkan perhatian khusus karena lapisan tanah yang mengering dapat menyimpan bara dan membuat kebakaran sulit dipadamkan sepenuhnya. Pemerintah berharap pembasahan melalui hujan dapat meningkatkan kelembapan lahan dan membantu kerja tim pemadam di lapangan.
Pelaksanaan OMC di Kalimantan Barat dijadwalkan berlangsung mulai 5 hingga 14 September 2026 dengan memanfaatkan pesawat CASA 212. Operasi dilakukan dengan menyesuaikan dinamika atmosfer dan ketersediaan awan yang memenuhi persyaratan untuk penyemaian. BMKG mempunyai peran penting dalam memberikan analisis mengenai posisi awan, arah angin, kelembapan, dan berbagai parameter cuaca lainnya sebelum pesawat diterbangkan. Informasi tersebut digunakan untuk menentukan lokasi serta waktu penyemaian yang dinilai mempunyai peluang menghasilkan hujan. Karena kondisi atmosfer dapat berubah dengan cepat, pola penerbangan OMC juga dapat disesuaikan dari hari ke hari. Pemerintah menekankan operasi tersebut bukan menciptakan awan dari kondisi langit cerah, melainkan mengoptimalkan awan alami yang sudah tersedia.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kemenhut Dwi Januanto Nugroho menyatakan pelaksanaan OMC menjadi salah satu bagian dari mitigasi berlapis dalam menghadapi karhutla. Operasi di Kalimantan Barat mendapatkan dukungan logistik dari BNPB dan dukungan analisis cuaca dari BMKG. Pesawat diarahkan menuju awan potensial dengan membawa bahan semai yang kemudian dilepaskan pada bagian tertentu untuk membantu proses pembentukan hujan. Hasil operasi akan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan cuaca dan kondisi kebakaran di lapangan. Apabila terdapat peluang awan di kawasan lain yang membutuhkan pembasahan, arah operasi dapat disesuaikan dengan rekomendasi meteorologi. Pendekatan tersebut diharapkan membuat sumber daya yang tersedia dapat digunakan secara lebih efektif.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebelumnya menekankan bahwa setiap potensi awan hujan perlu dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk membantu penanganan karhutla di Kalimantan Barat. Berdasarkan analisis cuaca, periode 4 hingga 8 September memberikan peluang pertumbuhan awan yang dapat mendukung pembasahan sejumlah kawasan. Pemerintah tidak hanya mengarahkan penyemaian tepat di atas lokasi kebakaran karena tujuan lainnya adalah meningkatkan kelembapan kawasan di sekitarnya. Pembasahan lahan gambut menjadi salah satu sasaran utama agar tinggi muka air tanah dapat dipertahankan pada kondisi yang lebih aman. Gambut yang tetap lembap mempunyai risiko lebih rendah untuk terbakar dan menyimpan bara di bawah permukaan. Strategi pencegahan tersebut diharapkan mampu menekan kebutuhan pemadaman berskala besar apabila periode kering kembali berlangsung.
Hasil awal penerapan OMC di Kalimantan Barat menunjukkan hujan telah turun di sejumlah wilayah yang sebelumnya menghadapi ancaman kebakaran. Pembasahan membantu meningkatkan kelembapan lahan gambut sekaligus mendukung proses pemadaman pada beberapa titik yang masih menyimpan panas. Pemerintah tetap melakukan pemantauan karena hujan dalam waktu singkat belum tentu cukup untuk menghilangkan seluruh risiko kebakaran. Lapisan gambut yang telah mengalami kekeringan panjang membutuhkan pembasahan berkelanjutan agar kelembapannya benar-benar pulih. Kondisi angin dan suhu juga dapat kembali mempercepat pengeringan permukaan apabila hujan tidak berlangsung secara konsisten. Karena itu, setiap peluang pertumbuhan awan selama periode operasi akan terus dimanfaatkan sesuai hasil analisis BMKG.
Selain Kalimantan Barat, pemerintah juga mempersiapkan pelaksanaan OMC lanjutan di Kalimantan Tengah. Operasi di provinsi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 6 hingga 14 September dengan menyesuaikan ketersediaan awan potensial. Kalimantan Tengah menjadi perhatian karena mempunyai bentang gambut luas dan masih mencatat jumlah titik panas yang tinggi. Karakter kebakaran gambut membuat pemadaman membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan kebakaran vegetasi biasa. Api dapat masuk jauh ke lapisan organik sehingga permukaan terlihat tidak lagi terbakar sementara bara masih bertahan di bawah tanah. Hujan yang cukup dibutuhkan untuk membantu air masuk ke lapisan tersebut dan mempercepat proses pendinginan.
Data pemantauan pemerintah menunjukkan ancaman karhutla masih membutuhkan kewaspadaan tinggi meskipun kualitas udara di sejumlah wilayah mulai membaik. Hingga 3 September malam, sistem pemantauan mendeteksi 688 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia. Pengawasan intensif dilakukan antara lain di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi. Pemerintah mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak otomatis menunjukkan satu kejadian kebakaran aktif. Satu kebakaran dapat menghasilkan beberapa hotspot, sementara setiap indikasi panas tetap membutuhkan pemeriksaan langsung di lapangan. Data satelit tersebut digunakan sebagai salah satu dasar untuk menentukan lokasi yang membutuhkan respons cepat.
OMC juga bukan satu-satunya instrumen yang digunakan pemerintah dalam menghadapi kebakaran. Operasi terpadu tetap mengandalkan pemadaman darat, patroli, pendinginan, water bombing, serta pemantauan kawasan rawan secara terus-menerus. Secara nasional, sebanyak 53 unit armada udara telah dialokasikan untuk mendukung pengendalian karhutla, terdiri atas 19 unit untuk patroli udara dan OMC serta 34 unit yang difokuskan pada water bombing. Dukungan udara terutama dibutuhkan untuk menjangkau titik kebakaran yang sulit dicapai oleh personel melalui jalur darat. Namun penerbangan tetap bergantung pada kondisi jarak pandang dan keselamatan, terutama ketika asap berada dalam konsentrasi tinggi. Karena itu, tim darat tetap menjadi unsur penting untuk memastikan kebakaran benar-benar padam hingga lapisan bawah permukaan.
Penanganan khusus terhadap kebakaran gambut juga dilakukan melalui metode pembasahan langsung hingga ke lapisan tanah. Teknik injeksi gambut digunakan pada lokasi tertentu untuk membantu air mencapai sumber panas yang tersembunyi di bawah permukaan. Petugas kemudian melakukan pemeriksaan dan pendinginan berulang agar bara tidak kembali berkembang ketika permukaan tanah mulai mengering. Pemerintah menggabungkan metode tersebut dengan OMC karena hujan dapat membantu memperluas area pembasahan yang sulit dicapai secara manual. TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, masyarakat peduli api, relawan, serta unsur pemerintah daerah terus dilibatkan dalam operasi lapangan. Pembagian personel dan peralatan dilakukan berdasarkan tingkat kerawanan serta kondisi aktual pada masing-masing wilayah.
Kemenhut menegaskan pengendalian karhutla tetap diarahkan pada kombinasi antara pemadaman dan pencegahan agar kebakaran tidak terus berulang selama periode kering. Pelaksanaan OMC di Kalimantan menjadi salah satu instrumen untuk mempertahankan kelembapan lahan ketika peluang hujan alami masih tersedia. Pemerintah akan terus mengevaluasi perkembangan hotspot, kualitas udara, kondisi gambut, dan dinamika atmosfer untuk menentukan langkah berikutnya. Masyarakat serta pelaku usaha juga diminta menghindari aktivitas pembakaran lahan karena api dapat berkembang dengan cepat ketika vegetasi berada dalam kondisi kering. Penegakan hukum tetap disiapkan terhadap pembakaran yang terbukti melanggar ketentuan, baik dilakukan individu maupun korporasi. Melalui kombinasi OMC, operasi udara, pemadaman darat, pembasahan gambut, dan pencegahan, pemerintah menargetkan kebakaran di Kalimantan dapat semakin terkendali sekaligus menekan risiko munculnya kembali kabut asap.