Jakarta, 2 September 2026 – BYD segera memperkuat komitmennya terhadap pasar Indonesia melalui pengoperasian fasilitas produksi kendaraan listrik di Subang, Jawa Barat. Pabrik yang berada di kawasan Subang Smartpolitan tersebut menjadi bagian penting dari rencana BYD untuk membangun basis manufaktur kendaraan listrik di Tanah Air. Fasilitas ini dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 unit kendaraan per tahun ketika beroperasi secara penuh. Kehadiran pabrik tersebut sekaligus menandai pergeseran BYD dari ketergantungan terhadap kendaraan impor utuh atau Completely Built Up (CBU) menuju produksi kendaraan secara lokal. Langkah ini juga membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi salah satu basis produksi BYD di kawasan Asia Tenggara.
Pabrik BYD di Subang dijadwalkan memasuki fase penting pada September 2026 setelah sebelumnya menjalani proses pembangunan, pemasangan peralatan, hingga pengujian lini produksi. Fasilitas tersebut dibangun dengan investasi besar dan dipersiapkan untuk mendukung kebutuhan pasar domestik terlebih dahulu. Dalam perkembangan terbarunya, BYD telah memulai proses produksi kendaraan rakitan Indonesia di fasilitas tersebut. Dengan kapasitas yang besar, pabrik ini tidak hanya ditujukan untuk memenuhi permintaan konsumen dalam negeri, tetapi juga berpotensi menjadi basis ekspor pada tahap berikutnya.
Sejumlah model BYD sudah disebut masuk dalam proses perakitan lokal di Subang. Salah satu yang paling menonjol adalah BYD M6, kendaraan listrik jenis multi-purpose vehicle atau MPV yang sejak awal mendapat perhatian besar di pasar Indonesia. Versi rakitan Indonesia dari M6 bahkan telah diperkenalkan kepada konsumen dalam ajang otomotif nasional. Produksi lokal M6 menjadi langkah penting karena model tersebut memiliki karakter yang sesuai dengan kebutuhan keluarga Indonesia. Selain versi listrik murni, pengembangan lini produksi juga mencakup varian yang menggunakan teknologi plug-in hybrid.
Model berikutnya adalah BYD Atto 1, mobil listrik berukuran kompak yang menyasar konsumen perkotaan. Atto 1 menjadi salah satu produk penting dalam strategi BYD untuk memperluas pasar kendaraan listrik ke segmen yang lebih terjangkau. Produksi model ini di Subang memungkinkan BYD meningkatkan fleksibilitas pasokan sekaligus menyesuaikan strategi harga dan distribusi di Indonesia. Kehadiran Atto 1 dalam daftar kendaraan yang dirakit lokal juga memperlihatkan bahwa pabrik Subang tidak hanya diarahkan untuk memproduksi mobil berukuran besar.
Sebelumnya, BYD telah memasarkan sejumlah model lain di Indonesia, seperti Seal, Dolphin, Atto 3, Sealion 7, M6, dan Atto 1. Keenam model tersebut pada tahap awal masih didatangkan dalam bentuk kendaraan utuh dari China. Dengan beroperasinya pabrik Subang, status produksi sebagian model mulai bergeser ke arah perakitan dalam negeri. Perubahan tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang BYD untuk memperkuat rantai pasok dan ekosistem kendaraan listrik Indonesia. Tidak tertutup kemungkinan model lain dalam portofolio BYD nantinya ikut masuk ke lini produksi lokal setelah kapasitas dan kebutuhan pasar berkembang.
Kehadiran fasilitas produksi lokal juga berkaitan erat dengan komitmen investasi BYD di Indonesia. Sebelumnya, perusahaan asal China tersebut telah menyatakan rencana membangun fasilitas manufaktur dengan kapasitas hingga 150.000 kendaraan per tahun. Pembangunan pabrik di Subang menjadi salah satu bentuk realisasi dari komitmen tersebut setelah BYD memperluas bisnisnya di Indonesia sejak 2024. Selain produksi kendaraan, fasilitas ini diharapkan ikut mendorong terbentuknya ekosistem industri kendaraan listrik, termasuk pengembangan komponen dan tenaga kerja.
Produksi lokal juga dapat memberikan keuntungan dari sisi rantai pasok dan waktu distribusi. Kendaraan yang dirakit di Indonesia berpotensi memiliki proses pengiriman yang lebih sederhana dibandingkan mobil yang seluruhnya didatangkan dari luar negeri. Dalam jangka panjang, peningkatan kandungan lokal juga dapat membuka ruang bagi semakin banyak komponen diproduksi atau dipasok dari dalam negeri. Pemerintah sendiri mendorong produsen kendaraan listrik untuk membangun industri yang tidak hanya berorientasi pada penjualan kendaraan, tetapi juga memberikan dampak terhadap investasi, tenaga kerja, dan pengembangan industri pendukung.
BYD saat ini menjadi salah satu merek kendaraan listrik dengan pertumbuhan paling kuat di Indonesia. Portofolio produknya mencakup berbagai segmen, mulai dari mobil kompak, hatchback, SUV, sedan, hingga MPV. Perusahaan juga terus memperluas jaringan penjualan dan layanan purnajual seiring meningkatnya jumlah kendaraan BYD di jalan raya. Dengan adanya pabrik Subang, strategi ekspansi tersebut memasuki tahap baru karena perusahaan mulai menggabungkan aktivitas penjualan dengan produksi kendaraan di dalam negeri.
Ke depan, kapasitas pabrik Subang menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan perkembangan BYD di Indonesia. Jika permintaan kendaraan listrik terus meningkat, fasilitas tersebut dapat ditingkatkan pemanfaatannya hingga mendekati kapasitas maksimal. Selain memenuhi kebutuhan konsumen Indonesia, peluang ekspor ke negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara juga terbuka. Dengan demikian, pabrik Subang tidak hanya menjadi fasilitas perakitan mobil BYD untuk pasar Indonesia, tetapi berpotensi berkembang menjadi salah satu pusat produksi kendaraan listrik perusahaan di kawasan.