Jakarta, 10 September 2026 – Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah menghancurkan sebuah kapal permukaan tanpa awak milik militer Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz. Angkatan Laut IRGC menyatakan kendaraan laut nirawak yang disebut memiliki nomor lambung 5838 tersebut menjadi sasaran serangan setelah terdeteksi beroperasi di jalur strategis tersebut. Menurut klaim Iran, serangan membuat drone laut itu hancur dan kemudian tenggelam, sementara dua kapal perang Amerika Serikat yang berada tidak jauh dari lokasi disebut meninggalkan kawasan. Namun, pihak militer Amerika Serikat membantah klaim bahwa salah satu kapal nirawaknya berhasil dihancurkan. Perbedaan keterangan tersebut membuat kondisi sebenarnya dari insiden belum dapat diverifikasi secara independen. Peristiwa itu terjadi ketika ketegangan antara Washington dan Teheran di sekitar Selat Hormuz kembali meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir.
IRGC menyatakan operasi dilakukan setelah pasukannya mengidentifikasi keberadaan kendaraan permukaan tanpa awak Amerika di kawasan perairan strategis. Dalam keterangan pihak Iran, drone laut tersebut menjadi bagian dari aktivitas militer AS yang semakin intensif di sekitar Selat Hormuz. Iran mengklaim kendaraan itu terkena serangan dan tidak lagi dapat beroperasi setelah mengalami kerusakan berat. Teheran kemudian menggambarkan peristiwa tersebut sebagai keberhasilan pasukannya menghadapi aktivitas militer Amerika di kawasan. Akan tetapi, klaim yang dikeluarkan oleh salah satu pihak dalam konflik membutuhkan verifikasi terpisah karena kedua negara sedang terlibat dalam konfrontasi langsung. Militer AS memberikan versi berbeda dengan menyatakan tidak ada kapal permukaan tanpa awak mereka yang berhasil dihancurkan oleh Iran.
Perselisihan mengenai insiden terbaru terjadi hanya beberapa hari setelah Iran mengumumkan keberhasilan mendapatkan sebuah kendaraan bawah air nirawak milik Amerika Serikat. Pada 8 September, IRGC menyatakan telah menangkap sebuah drone bawah laut di pintu masuk Selat Hormuz. Kendaraan tersebut kemudian diidentifikasi sebagai Dive-LD, sistem bawah air otonom yang dikembangkan untuk menjalankan berbagai misi maritim. Militer Amerika Serikat mengakui kehilangan kendaraan tersebut, tetapi memberikan penjelasan berbeda mengenai penyebabnya. Pentagon menyatakan drone yang dimaksud merupakan model lama yang mengalami kerusakan dan tidak membawa sistem maupun data rahasia. Pihak Amerika juga menegaskan kehilangan kendaraan nirawak merupakan risiko yang telah diperhitungkan dalam operasi menggunakan teknologi tanpa awak.
Dive-LD merupakan kendaraan bawah air otonom yang dapat digunakan untuk pemetaan dasar laut, pemeriksaan infrastruktur bawah air, pengumpulan informasi, hingga membantu operasi penanggulangan ranjau. Penggunaan sistem semacam itu semakin meningkat karena memungkinkan militer menjalankan misi di kawasan berisiko tanpa menempatkan personel secara langsung. Kendaraan bawah air dapat bergerak dalam waktu panjang dan menjalankan tugas secara relatif mandiri berdasarkan misi yang telah diprogram. Kehadirannya di sekitar Selat Hormuz menjadi penting karena kawasan tersebut memiliki karakter perairan sempit dengan lalu lintas kapal komersial yang sangat padat. Selain ancaman rudal dan drone, keberadaan ranjau laut menjadi salah satu risiko yang terus diperhitungkan. Teknologi nirawak karena itu menjadi bagian penting dari operasi pemantauan dan pengamanan yang dilakukan Amerika Serikat.
Selat Hormuz sendiri memiliki posisi sangat strategis dalam perdagangan energi global karena menjadi jalur keluar utama minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia. Jalur laut tersebut hanya memiliki lebar beberapa puluh kilometer pada bagian tersempitnya dan berada di antara Iran serta Oman. Kapal dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Irak, dan negara lain menggunakan kawasan tersebut untuk membawa komoditas energi menuju pasar internasional. Gangguan keamanan dapat dengan cepat memengaruhi biaya pengiriman, premi asuransi, dan harga minyak dunia. Karena itu, setiap konfrontasi militer antara Iran dan Amerika Serikat di sekitar Hormuz selalu mendapatkan perhatian besar dari pasar global. Risiko meningkat ketika serangan mulai melibatkan kapal perang, tanker, drone, dan berbagai sistem militer lainnya.
Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz telah mengalami penurunan drastis akibat meningkatnya risiko keamanan. Jumlah kapal komoditas yang melewati jalur tersebut turun jauh dibandingkan kondisi sebelum konflik Iran dan Amerika Serikat meningkat. Dalam kondisi normal, lebih dari seratus kapal dapat melintasi kawasan setiap hari, sedangkan aktivitas terbaru turun menjadi sebagian kecil dari angka tersebut. Sejumlah operator memilih menunda perjalanan karena mempertimbangkan ancaman serangan, ranjau, dan ketidakpastian mengenai pengamanan jalur. Kapal yang tetap beroperasi harus menghadapi biaya asuransi lebih tinggi serta prosedur keamanan tambahan. Penurunan lalu lintas tersebut menunjukkan konflik tidak hanya memiliki konsekuensi militer, tetapi juga langsung memengaruhi rantai pasokan energi internasional.
Konfrontasi antara Iran dan Amerika Serikat di perairan tersebut juga telah melibatkan serangan terhadap kapal yang lebih besar. Dalam beberapa hari terakhir, IRGC meluncurkan serangan rudal terhadap kapal perang Amerika, sementara Washington membalas dengan menyerang sejumlah kapal tanker Iran. Kapal tanker Downy, Stark I, dan Kylo termasuk di antara kapal yang dilaporkan menjadi sasaran tindakan militer Amerika. Iran kemudian meningkatkan ancaman terhadap kapal yang dianggap tidak mematuhi aturan yang diberlakukannya di kawasan Hormuz. Amerika Serikat pada saat bersamaan berusaha mempertahankan kebebasan navigasi dan mengurangi kemampuan Iran mengontrol pergerakan kapal. Pertukaran serangan tersebut membuat risiko salah perhitungan semakin besar karena kekuatan kedua negara beroperasi dalam ruang perairan yang relatif sempit.
Insiden drone laut juga memperlihatkan semakin pentingnya kendaraan nirawak dalam peperangan maritim modern. Kapal permukaan tanpa awak dapat digunakan untuk pengintaian, patroli, pemetaan, pengawasan jalur pelayaran, hingga mendukung operasi terhadap ancaman ranjau. Karena tidak membawa awak, kendaraan tersebut dapat ditempatkan di kawasan berbahaya dengan risiko korban personel yang lebih rendah. Namun, keberadaannya juga menciptakan persoalan baru ketika kendaraan masuk ke wilayah yang diklaim atau diawasi ketat oleh negara lain. Iran selama beberapa tahun terakhir telah beberapa kali berhadapan dengan sistem nirawak Amerika di kawasan Teluk. Insiden serupa pernah terjadi ketika pasukan Iran mengambil kendaraan permukaan tanpa awak milik AS sebelum akhirnya melepaskannya.
Situasi terbaru semakin sensitif karena Selat Hormuz sedang menjadi salah satu pusat konfrontasi antara Washington dan Teheran. Iran memandang jalur tersebut sebagai instrumen strategis untuk memberikan tekanan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya. Sebaliknya, Washington berusaha memastikan Iran tidak dapat sepenuhnya mengendalikan salah satu jalur energi terpenting dunia. Aktivitas militer kedua pihak membuat kapal komersial harus menghadapi risiko yang semakin tinggi ketika memasuki kawasan. Kondisi tersebut juga berkontribusi terhadap tekanan pada harga minyak internasional yang kembali bergerak di atas 100 dolar AS per barel. Ketidakpastian mengenai berapa lama konfrontasi berlangsung membuat pasar energi tetap sangat sensitif terhadap setiap perkembangan baru dari Teluk Persia.
Klaim IRGC mengenai penghancuran drone laut Amerika Serikat menjadi perkembangan terbaru dalam rangkaian insiden militer di Selat Hormuz, tetapi kebenaran mengenai kondisi kendaraan tersebut masih diperdebatkan kedua pihak. Iran menyatakan target berhasil dihancurkan, sedangkan Amerika Serikat membantah kehilangan kapal nirawak akibat serangan tersebut. Perbedaan versi itu membuat verifikasi independen menjadi penting sebelum dapat dipastikan apa yang sebenarnya terjadi. Insiden tersebut bagaimanapun menunjukkan intensitas operasi militer di sekitar Hormuz masih tinggi setelah Iran sebelumnya mendapatkan kendaraan bawah air Dive-LD milik AS. Selama kedua negara mempertahankan pengerahan kekuatan di kawasan yang sama, kemungkinan munculnya konfrontasi baru tetap terbuka. Selat Hormuz pun terus menjadi salah satu titik paling rawan dalam konflik Iran-Amerika Serikat sekaligus sumber ketidakpastian bagi perdagangan dan pasokan energi dunia.